Serui 1946 dalam kenanganku

Published 23/05/2010 by laniratulangi


Serui 1946 dalam kenanganku

 

Dahulu …… tahun 1946-an …… siapa yang punya alat jepret? Hanya satu dua orang, dan tentunya Tukang Potret di tokonya disatu ruangan yang ada kacamuka, sisir (yang terkadang kurang bersih). Diruangan itu ia memiliki satu alat mistirius yang ditutup dengan kain bludru hitam. Dan itulah alat potret yang digunakan olehnya untuk mengabadikan kita2 ini kalau memang berkenan.
Oleh karena itu untuk menyajikan foto2 dari kenang2an ku akan Serui, Yapen, Papua atau dahulu: Seroei, Japen, Nieuw Guinea maka saya harus mencari dan menemukannya melalui Oom Google di deretan dokumentasi foto dari Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkerkunde (semoga ejaannya sekarang akhirnya benar).
Jadi: TERIMA KASIH KITLV agar saya dapat menyegarkan ingatan saya kembali (kini tahun 2010) ke 64 tahun yang lalu.

Foto yang saya peroleh dari KITLV sangat kecil (kira2 sekitar 8 – 10 KB) jadi saya mencoba mengeditnya dengan suatu software yang mungkin saya kurang menguasainya. Jadi kalau foto dibawah ini jelek itu adalah tanggung jawab saya.

Let’s come back to business:

Kami sekeluarga dibuang ke Seroei sekitar pertengahan 1946, setelah ayah saya dan 6 orang rekan ditahan di penjara Makassar yang kini telah tiada namanya Penjara Hoogepad.

Penjara HOOGEPAD, Makassar

Penjara HOOGEPAD, Makassar

Waktu itu didalam penjara itu disamping maling, perampok, pembunuh dll sejenisnya  ada ratusan pejoang kemerdekaan yang dikurung oleh NICA. Diantara mereka ada 7 orang, yakni alm. ayah saya bersama 6 orang rekan seperjoangan, yakni Oom Lanto Dg Pasewang, Oom Latumahina, Oom Intje Saleh, Oom Pondaag, Oom Suwarno dan Oom Tobing. (Saya menyebut nama2 itu dengan hormat, namun demikianlah sebutan saya terhadap mereka secara akrab).

Yang termuda adalah Oom Tobing. Waktu itu beliau baru berumur 26 tahun tetapi kematangan jiwanya dan semangat berjuangnya tidak kurang dari pada keenam rekan sepenjara lainnya.

Nanti satu saat saya akan tulis berbagai hal lebih teliti dan “accountable” tapi untuk sementara begini saja dulu. Saya lupa persis tanggalnya, tetapi pagi hari, subuh, Ibu saya kakak saya Milly, adik saya Uki, sepupu saya Ines Manaroinsong (yang in de kost dikeluarga kami) dan saya dijemput oleh truk yang dijaga oleh anggauta2 KNIL. (Note: Ines, oleh NEFIS,  disangka adalah kakak saya Zus yang tertinggal di Jakarta ).  Adapun saya ingat  Ibu saya diberi tempat terhormat didepan disamping supir truk.

Truk melaju melalui jalan utama Makassar, yang kini bernama Jalan Sam Ratulangi, meliwati rumah indah buat Gubernur Sulawesi (dejure) menuju kerumah sementara Guberur Sulawesi (defacto) yakni PENJARA HOOGEPAD. Truk berhenti dan kami menunggu sejenak … Tiba2 pintu penjara terbuka, dan keluarlah Bapak2 seperjuangan itu satu per satu. Lalu terjadilah sesuatu yang saya tak pernah dapat lupakan sepanjang umur hidup saya….. Dari dalam penjara terdengar suara beratus2 orang menyanyikan lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”.  Itu adalah suara dari teman2 seperjuangan kita yang meringkuk disana.

Ketujuh Bapak2 dinaikkan juga ke truk yang sama….. Satu pertemuan yang haru diatas truk dengan ayahku setelah perpisahan beberapa bulan. Juga kami senang bertemu dengan Oom2 lainnya, walaupun mereka pasti kecewa bahwa para keluarga mereka tak bersama kami diatas truk itu.

Setelah itu truk diluncurkan kearah pantai, memliwati Fort Rotterdam melalui jalan yang masih sepi karena fajar belum menyngsing. Disatu tempat dipantai Losari, truk berhenti dan kami lihat bahwa dilaut telah ada satu pesawat Catalina yang mirip dengan yang tergambar difoto dibawah ini.

Pesawat CATALINA di teluk Serui

Pesawat CATALINA di teluk Serui

Setelah berada di pesawat saya menengok kelur jendela lalu melihat bahwa diatas tanggul berdiri berderet kawan2 kami: ada sekitar 20 orang…. Satu persatu saya dapat mengenalnya: ada Oom dan Tante Saelan beserta beberapa puteri2 mereka, dan ada kawan2 keluarga yang seperjuangan yang melambai2 kearah pesawat Catalina. Mereka tahu bahwa pasti kami melihat mereka….. HARU ……. “Kapan atau: dapatkah  kami akan bertemu lagi???”  Hanya yang maha Kuasa yang mengetahui.

Dalam penerbangan yang memakan waktu sekitar 8 – 10 (?) jam non stop pada awalnya rasanya semua terdiam. Meredakan berbagai gelombang emosi yang bergolak ….. . Lagipula semua agaknya lelah …. .Pada saat mendekati tengah hari Ibu saya membuka rantang besar yang berisi makanan sederhana secukupnya untuk kami semua. Mungkin peralatan makan lainnya sudah disiapkan olehnya juga seperti piring, sendok dll.

Memang kira2 10 hari sebelum hari H  Ibu saya telah mendapat berbagai petunjuk dari Mijnheer Procureur Generaal (Mungkin jaksa penuntut istilahnya) tetapi seingat saya namanya: Lion Cachet (orang Belanda dengan nama Perancis). Waktu itu Ibu saya memenuhi panggilan  untuk menghadap mijnheer ini  yaitu saat pertama diberitahu APA yang direncanakan oleh Belanda dengan ketujuh tahanan mereka. Waktu itu Ibu sayau saya  sudah dijelaskan skenario yang akan diberlangsungkan termasuk pula info bahwa  “penerbangan akan memakan waktu 10 jam kesuatu tempat yang masih dirahasiakan”. Dan perjalanan ini bukan dalam rangka berlibur atau acara hiburan lain seperti itu tetapi dalam upaya “verbanning” atau “pembuangan” untuk dapat meningkatkan “rust en orde” (ketenangan dan keteraturan) di Sulawesi.

Menjelang sore hari maka pesawat mulai mengurang ketinggian sedangkan dibawah kita hanya terlihat birunya laut.

Hati cukup bergolak karena belum tahu bagaimana rasanya mendarat yang bukan kedarat tetapi ke laut. Setelah pesawat berhenti dan kami dapat lihat keluar terlihat wajah2 type Melanesia, didalam beberapa perahu yang dengan tenang didayungkan mendekati pesawat. Dikejauhan (sebelah kanan dari posisi pesawat kami) terlihat rumah2 panggung kesemuanya distas air.

Rumah2 panggung diatas air laut.

Rumah2 panggung diatas air laut.

Kami diturunkan kedarat dengan bantuan perahu2 tadi itu dan kira2 sesuai dengan yang berpuluh2 tahun kemudian digambarkan oleh seorang ahli gambar berdasarkan informasi dari penduduk setempat.

Mendarat di Seroei

Mendarat di Seroei

Pada gambar terlihat dikejauhan pulau Mawampi, pesawat Catalina dan orang2 yang turun dari pesawat. Ada beberapa ketidak tepatan namun pada umumnya digambar itu tertangkap suasana ke”bengongan” penduduk melihat kumpulan orang2 yang turun dari pesawat dan yang akan menjadi anggauta masyarakat Seroei untuk waktu yang tidak dapat ditentukan sebelumnya.

Yang tidak jelas adalah bahwa disamping keluarga kami ada pula keenam Bapak2 lainnya. Tetapi yang menarik (walaupun tidak tepat juga) adalah orang dengan corong pengeras suara yang saya kira tahun 1946 belum ada (di Seroei). Yang saya ingat adalah bahwa yang diperdengarkan adalah bahwa “orang2 yang turun ini adalah OKNUM2 YANG BERBAHAYA dan harus dijauhi”.

Demikianlah penerimaan kami buangan NICA di Seroei. Kami diberikan penempatan dibeberapa ruangan selama beberapa hari kemudian masing2 diperuntukkan satu rumah (kecil) untuk ditempati bersama keluarga masing2. Para isteri dan keluarga Bapak2 lainnya tiba menyusul beberaoa waktu setelah kami. Dibawah ini beberapa foto yang memperlihatkan Seroei semasa itu.

Teluk Seroei yang indah

Teluk Seroei yang indah

Dermaga Seroei dengan peti2 produk2

Dermaga Seroei dengan peti2 produk2

Rumah HPB

Rumah HPB

HPB akronim dari:  Hoofd van Plaatselijk Bestuur artinya Kepala Pemerintahan Setempat, yang pada waktu itu dijabat oleh Mijnheer den Hartogh, yang kemudian ternyata pernah jadi mahasiswa di Holland bersama kakak laki2 saya yang tertua di Nederland. Hanya kakak saya mengambil bidang studi kedokteran sedangkan den Hartogh mungkin studi yang lain.

Rumah Landbouw consulent

Rumah Landbouw consulent

Gedung SD tempat adik saya menuntut ilmu

Gedung SD tempat adik saya sempat menuntut ilmu

Jalanan di Seroei

Jalanan di Seroei

Demikianlah akan nanti kusambung dengan pos foto SERUI di tahun 1996.

Terima kasih atas perhatian Anda.

Kelanjutan nasib ketujuh teman seperjuangan dari Makassar beserta keluarga masing2 di Serui dapat dibaca pada tulisan dari Bpk Ir. Zainuddin

14 comments on “Serui 1946 dalam kenanganku

  • Salut kepada Tante Lanny yang senantiasa mengumpulkan keping-keping puzzle dari Opa Sam Ratulangie .. dan keping-keping sejarah secara tematik sehingga anak cucu .. juga seluruh masyarakat Indonesia dapat memiliki gambaran mengenai suasana dan penggal sejarah Indonesia, khususnya Serui, dan Sam Ratulangie

    • Hi! Rido, aku senang mendapat respon atas penjabaranku mengenai kenangan pada saat2 yang dalam hidupku kurasa sangat pribadi tetapi penting. waktu itu saya berumur 13-14 tahun jadi sudah dapat berobservasi agak jelas dan –untung– sekarang masih dapat merekam kembali perasaanku pada waktu itu.

  • Aku sangat beterima kasih kepada kakak lani ratulangi…karena telah menampilkan foto wajah serui di tahun 1946.
    Bapak saya juga salah satu anggota PPKI, sebuah organisasi yang didirikan oleh Bpk. Dr. Sam Ratulangi di Serui pada waktu itu.
    Dalam organisasi Bpk sebagai Bendahara, atas nama : Achmad Djalali (keturunan Gorontalo-Papua)

  • Bapak Abdul Jalali yth. Terima kasih atas perhatian dan komentar Bapak atas Blog saya. Kenangan bagus akan PPKI mungkin perlu di-refresh lagi, agar cita2, maksud dan tujuan para pendahulu kita tidak terkikis oleh deru dan ombak perkembangan.
    Ditahun 1996 pernah kami adakan satu Peringatan di Makassar dan Serui. Foto2nya dapat dilihat pada alamat dibawah ini:

    http://lanirat.multiply.com/photos/album/16

    Silahkan meng-klik.

  • Selamat siang Bpk Jalali yang saya hormati.
    Setelah saya lihat kembali dokumen2 saya didalam berkas2 mengenai perjuangan yang berkobar di Serui setelah ke-tujuh Bapak2 dan keluarganya dibebaskan, maka saya lihat bahwa istilah PPKI salah dan semestinya harus PKII yakni singkatan dari Partai Kemerdekaan Irian Indonesia.
    Penyajian ulasan saya mengenai hal2 yang terungkap di dokumen2 tersebut masih merupakan PR saya untuk masa depan.

  • Hallo ka Lani… kami keluarga besar PPKI yg berada di serui telah melakukan reuni dan ingin membentuk suatu ikatan keluarga PPKI. Suatu bukti sejarah yg tak terlupakan dr Orang Tua kami….semoga kaka dapat merestuinya….
    ini no hp yg dapat kaka hubungi,…(081344361170)

  • Bung Abdul Jalali di Serui!
    Ada kabar bagus. Setelah beberapa waktu kami sekeluarga bikin peringatan 30 Juni 2010 (Hari wafatnya Alm. Ayah kami: Dr. G.S.S.J. Ratulangie yang ke-61) dengan sukses. Acara peringatan di Monumen di Tondano dan Pameran Foto (memperlihatkan sekitar 60 lembar foto tentang Perjuangan Sam Ratu Langie) di Tondano dan juga di Museum Propinsi di Manado. Yang terakhir dikunjungi lebih dari 200 pengunjung, maka jika Tuhan mengizinkan kami ingin peringati 30 Juni 2011 di Serui.
    Idee ini masih dalam taraf embrionik jadi Panitia dan Program juga belum jelas dan masih perlu digodog.
    Barangkali kita bisa kerja-sama. Namun ada satu hal yang penting. Kami selalu bekerja NON-POLITIKAL. Hanya ingin meneruskan dan memperluas pengertian masyarakat akan cita2 para pendahulu yakni khususnya ketujuh ex-buangan itu.
    Salam sejahtera bagi kita semua.
    Lani Ratulangi (atau Matulanda Sugandi-Ratulangi).
    PS. Foto2 dan laporan berita koran ada di Blog saya di WordPress juga.

  • kKa lani….ni saya br dapat AD/ART Organisasi PKII, yg arsipnya disimpan oleh Alm Achmad Djalali (bendahara PKII)…
    kalau ka lani mau nanti saya kirim (E-mail)

    • Email saya:
      lanirat@yahoo.com
      Saya tertarik sebab sejarah jangan dilupakan….. Khususnya anak2 muda agar tahu bahwa untuk sampai ketitik ini (dan ini belum titik akhir) sudah banyak yang berjuang dan ini jangan disia2kan. Kalau ada kekurangan….. ya bantulah memperbaikinya dan jangan ngambek lalu membanting semua yang telah tercapai.
      Kalau AD/ART bisa discan dikirim ke aku maka akan kumasukkan ke blog ini. Terima kasih sbelumnya…..

  • Salam ibu Lani.. Saya sedang dinas di Serui.. Tadi saya foto2 di rumah pembuangan Yth.Dr.Sam Ratulangie selama di Serui 1946-1948.. Saya googling info ttg beliau dan bertemu dengan web ini… Salam hormat dari saya yang selalu haus akan cerita sejarah… *baru tau kalau ternyata ada 7 pejuang yg diasingkan, dan keluarganya ikut..! Saya pikir diasingkan sendirian..*

  • Bung UYUNG yth! Saya SALUT buat website Anda! Aku blon sempat baca smua cuman seneng aja ada kawan dengan hobby nyang sama! Good luck…. truskan…. dan sampai ketemu lagi di dunia maya!
    Ibu Lani

  • Salam Kenal Ibu lani, Artikel yang sangat bagus tentang Serui. saya tunggu artikel2 selanjutnya tentang Serui. ijin ambil fotonya

  • Saya terharu membaca n melihat foto2 di blog ini. Walaupun saya adalah generasi yg lahir jauh sesudah era tsb, saya merasa dekat dengan kenangan sejarah tsb, krn saya lahir di Serui n tinggal di rumah pembuangan Dr. Sam Ratulangie yg waktu itu dihuni oleh Kel. Alm. Bpk. Patay.
    Semoga sejarah ini tetap diingat selamanya.
    Salam hormat dari Adelaide, South Australia

    • Hallo Bung Denny. Ya saya juga sering mengenang saat2 kami dibuang ke Seui. Walaupun keadaannya sebenarnya kurang mendukung situasi Serui saat2 itu begitu positip bagi kami anak2 sehingga keseluruhannya bagaikan liburan panjang dengan kenangan manis. Ditahun 1996 kami pernah menyelenggarakan Sarasehan Syukuran Makassar Serui sayang kakak saya Milly meninggalkan kami untuk selama2nya pada perjalanan dengan kapal dari Biak ke Serui. Ya …. walaupun saya kini berumur 79 tahun saya masih ingin untuk sekali saja lagi ke Serui. May GBU overthere…..
      Ibu Lani Sugandi-Ratulangi

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 10,491 other followers