Serui 1946 dalam kenanganku

Free Website Translator

Dahulu …… tahun 1946-an …… siapa yang punya alat jepret? Hanya satu dua orang, dan tentunya Tukang Potret di tokonya disatu ruangan yang ada kacamuka, sisir (yang terkadang kurang bersih). Diruangan itu ia memiliki satu alat mistirius yang ditutup dengan kain bludru hitam. Dan itulah alat potret yang digunakan olehnya untuk mengabadikan kita2 ini kalau memang berkenan.
Oleh karena itu untuk menyajikan foto2 dari kenang2an ku akan Serui, Yapen, Papua atau dahulu: Seroei, Japen, Nieuw Guinea maka saya harus mencari dan menemukannya melalui Oom Google di deretan dokumentasi foto dari Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkerkunde (semoga ejaannya sekarang akhirnya benar).
Jadi: TERIMA KASIH KITLV agar saya dapat menyegarkan ingatan saya kembali (kini tahun 2010) ke 64 tahun yang lalu. Foto yang saya peroleh dari KITLV sangat kecil (kira2 sekitar 8 – 10 KB) jadi saya mencoba mengeditnya dengan suatu software yang mungkin saya kurang menguasainya. Jadi kalau foto dibawah ini jelek itu adalah tanggung jawab saya

Marilah saya ceriterakan apa2 yang saya ingat dari masa awal tahun 1946 di Makassar. Keluarga kami mendiami satu rumah yang bagus di jalan yang sekarang dinamakan Jalan Sam Ratulangi disudut jalan ini dengan yang dulu dinamakan Klapperlaan. Rumah itu adalah milik keluarga Waworuntu dan kami menyewanya dari mereka. Dugaan saya adalah bahwa rumah itu dulu didiami oleh orang Belanda dizaman kolonial. Seingat saya ada tiga kamar yang cukup besar dimana kamar terdepan digunakan sebagai ruangan kerja sedangkan kamar dibelakangnya adalah ruang tidurorang tua saya bersama kedua anak kecil (Adik saya dan saya yang berumur sekitar 12-13 tahun waktu itu). Jika jendela samping dibuka maka ada taman kecil, baik dikamar utama maupun dikamar kedua. Taman2 itu saya tanami dengan berbagai tanaman…… Kacang hijau dan juga kacang tanah, saya memang dari dulu senang cccok tanam sebagai hobby.

Pada tanggal 8 April 1946 malam hari sekitar jam 22 pintu rumah diketuk dimana tamu yang tidak diundang itu ternyata adalah serdadu2 KNIL (yang dipilih agar bukan keturunan Minahasa) yang datang untuk menjemput ayah saya untuk ditangkap dan dibawa entah kemana….. Dikamar tidur saya mendengar bunyi2an diluar jendela  maka secara insting saya membuka jendela…… Alangkah terkejutnya saya ketika melihat secara langsung dari mata- ke mata seorang serdadu KNIL yang berwarna kulit gelap sedang mengarahkan senapan plus bayonetnya kearahku,……selaku anak yang berumur 13 tahun ini selama hidup tidak kan melupakan kejadian ini. ….. Setelah peristiwa ini segera saya tutup kembali jendela, sambil memikirkan bahwa tanaman2 ku yang sudah mulai bertunas itu pasti terinjak2 oleh serdadu2 itu……..

Keesokan harinya kami dapat kabar bahwa Ayah saya dibawa ke penjara Makassar dan disamping beliau juga enam orang rekan seperjoangan Ayah juga ditangkap malamitu da dikurung bersama2 dalam satu ruangan di penjara di jalan Hogepad.

Penjara HOOGEPAD, Makassar
Penjara HOOGEPAD, Makassar

Disamping Ayah saya maka ada 6 orang rekan seperjoangan, yakni Oom Lanto Dg Pasewang, Oom Latumahina, Oom Intje Saleh, Oom Pondaag, Oom Suwarno dan Oom Tobing. (Saya menyebut nama2 itu dengan hormat, namun demikianlah sebutan saya terhadap mereka secara akrab). Yang termuda adalah Oom Tobing. Waktu itu beliau baru berumur 26 tahun tetapi kematangan jiwanya dan semangat berjuangnya tidak kurang dari pada keenam rekan sepenjara lainnya.

Belakangan ini saya berkesempatan untk membaca pelan2 lagi dokumen2 yang saya dapati fotokopynya di Arsip Nasional RI  yang keseluruhannya setelah kutata dan susun dengan baik saya fotokopy dan satu set saya menghantarkan kerumah Bpk Maulwi Saelan di kawasan Bendungan Hilir. Semoga Bapak Maulwi berkesempatan untuk membacanya….. Ada 9 dokumen/berkas yang kesemuanya dalam Bahasa Belanda yang merupakan Laporan2 dari NEFIS yakni alat intel dari NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Kiriman satu set dokumen2 ini adalah antara lain dalam kaitan ceritera2 yang ditulis oleh Bpk Maulwi dalam kedua bukunya. Keluarga Saelan ddan keluarga kami adalah sangat erat karena cita2 perjuangan adalah sama namun juga karena adik2 dari Bp.Maulwi yang semuanya wanita kira2 seumur dengan kakak dan adik saya.

Pokoknya terkadang uraian yang diberikan membuat saya tersenyum karena keseriusan upaya para petugas dan pejabat Belanda yang beberapa waktu lalu lari pontang panting ke Australia dan ditahun 1946 kembali ingin menegakkan rust en orde (ketenangan dan ketertiban) ala kolonial kembali. Sedangkan pemuda2 pelajar yang berjuang di hutan2 dianggap sebagai “opstandelingen” (pengacau) yang dihasut oleh seorang Dr. Ratulangi yang menamakan dirinya  Gubernur dan ini jelas2 merupakan penghinaan bagi “kekuasaan” Nederlandsch Indie…. hahahaha! Tetapi pada suatu hari Ibu saya dipanggil oleh Ouditeur Militair dan diberitahukan bahwa dalam waktu yang dekat Ayah saya bersama Ibu dan anak2 akan di kirim kesatu tempat yang masih dirahasiakan. Perjalanan akan ditempuh dengan pesawat udara dan memakan waktu sekitar 10 jam terbang……. Demikian juga dengan beberapa para Bapak yang senior lain dan keluarga mereka akan menyusul….. Berhubung perjalanannya lama diharapkan agar Ibu saya menyiapkan pula konsumsi untuk rombongan kecil ini…..

Pada pagi hari tanggal 17 Juni 1946, subuh, Ibu saya kakak saya Milly, adik saya Uki, sepupu saya Ines Manaroinsong (yang in de kost dikeluarga kami) dan saya dijemput oleh truk yang dijaga oleh anggauta2 KNIL. (Note: Ines, oleh NEFIS,  disangka adalah kakak saya Zus yang tertinggal di Jakarta ).  Adapun saya ingat  Ibu saya diberi tempat terhormat didepan disamping supir truk.

Truk melaju melalui jalan utama Makassar, yang kini bernama Jalan Sam Ratulangi, meliwati rumah indah buat Gubernur Sulawesi (dejure) menuju kerumah sementara Guberur Sulawesi (defacto) yakni PENJARA HOOGEPAD. Truk berhenti dan kami menunggu sejenak … Tiba2 pintu penjara terbuka, dan keluarlah Bapak2 seperjuangan itu satu per satu. Lalu terjadilah sesuatu yang saya tak pernah dapat lupakan sepanjang umur hidup saya….. Dari dalam penjara terdengar suara beratus2 orang menyanyikan lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya”.  Itu adalah suara dari teman2 seperjuangan kita yang meringkuk disana.

Ketujuh Bapak2 dinaikkan juga ke truk yang sama….. Satu pertemuan yang haru diatas truk dengan ayahku setelah perpisahan beberapa bulan. Juga kami senang bertemu dengan Oom2 lainnya, walaupun mereka pasti kecewa bahwa para keluarga mereka tak bersama kami diatas truk itu.

Setelah itu truk diluncurkan kearah pantai, memliwati Fort Rotterdam melalui jalan yang masih sepi karena fajar belum menyngsing. Disatu tempat dipantai Losari, truk berhenti dan kami lihat bahwa dilaut telah ada satu pesawat Catalina yang mirip dengan yang tergambar difoto dibawah ini.

Pesawat CATALINA di teluk Serui
Pesawat CATALINA di teluk Serui

Setelah berada di pesawat saya menengok kelur jendela lalu melihat bahwa diatas tanggul berdiri berderet kawan2 kami: ada sekitar 20 orang…. Satu persatu saya dapat mengenalnya: ada Oom dan Tante Saelan beserta beberapa puteri2 mereka, dan ada kawan2 keluarga yang seperjuangan yang melambai2 kearah pesawat Catalina. Mereka tahu bahwa pasti kami melihat mereka….. HARU ……. “Kapan atau: dapatkah  kami akan bertemu lagi???”  Hanya yang Maha Kuasa yang mengetahui.

Dalam penerbangan yang memakan waktu sekitar 8 – 10 (?) jam non stop pada awalnya rasanya semua terdiam. Meredakan berbagai gelombang emosi yang bergolak ….. . Lagipula semua agaknya lelah …. .Pada saat mendekati tengah hari Ibu saya membuka rantang besar yang berisi makanan sederhana secukupnya untuk kami semua. Mungkin peralatan makan lainnya sudah disiapkan olehnya juga seperti piring, sendok dll.  Menjelang sore hari maka pesawat mulai mengurang ketinggian sedangkan dibawah kita hanya terlihat birunya laut.

Hati cukup bergolak karena belum tahu bagaimana rasanya mendarat yang bukan kedarat tetapi ke laut. Setelah pesawat berhenti dan kami dapat lihat keluar terlihat wajah2 type Melanesia, didalam beberapa perahu yang dengan tenang didayungkan mendekati pesawat. Dikejauhan (sebelah kanan dari posisi pesawat kami) terlihat rumah2 panggung kesemuanya distas air.

Rumah2 panggung diatas air laut.
Rumah2 panggung diatas air laut.

Kami diturunkan kedarat dengan bantuan perahu2 tadi itu dan kira2 sesuai dengan yang berpuluh2 tahun kemudian digambarkan oleh seorang ahli gambar berdasarkan informasi dari penduduk setempat.

Mendarat di Seroei
Mendarat di Seroei

Pada gambar terlihat dikejauhan pulau Mawampi, pesawat Catalina dan orang2 yang turun dari pesawat. Ada beberapa ketidak tepatan namun pada umumnya digambar itu tertangkap suasana ke”bengongan” penduduk melihat kumpulan orang2 yang turun dari pesawat dan yang akan menjadi anggauta masyarakat Seroei untuk waktu yang tidak dapat ditentukan sebelumnya.

Yang menarik (namun tidak tepat ) adalah  orang di gambar dengan corong pengeras suara yang saya kira tahun 1946 belum ada (di Seroei). Yang saya ingat adalah bahwa yang diberitahukan melalui surat pemberi tahuan yang ditempel bahwa “orang2 ini adalah OKNUM2 YANG BERBAHAYA dan harus dijauhi”. Ini kami dengar dari beberapa orang asal Minahasa yang setelah beberapa waktu melihat bahwa sepertinya tidak ada satupun dari rombongan ini menyeramkan atau membahayakan. Jika menjelang sore hari ada yang memperlihatkan wajahnya di jendela dapur yang menghadap ke belakang Ibu saya atau orang2 yang membantu memasak kami mengerti bahwa ini adalah orang2 warga Serui yang ingin berkenalan dan ngobrol…… Mereka tetap berdiri diluar rumah dibelakang dapur dan lambat laun kami berkenalan. Pintu depan mereka tak pernah gunakan karena posisi itu sangat jelas kelihatan dari rumah HPB (Hoofd Plaatselijk Bestuur) dan juga dari kantor administrasi atau kantor pos yang bersebelahan. Bukan saja orang Manado yang datang ngobrol, orang2 Papua juga ternyata ingin berkenalan dengan “oknum2 berbahaya” yang ternyata tak berbahaya…..

Dengan cara yang khas ayah saya mudah berkenalan dengan tamu2 pintu belakang dan bahkan diskusi kemudian berkisar ke topik2 seperti MERDEKA. Hal in dengan kata2 sederhana dapat dijelaskan oleh Ayah saya kepada para tamu pintu belakang. Juga cara kami bersalaman diajar kepada mereka…. tak perlu “Selamat Malam, Tuan” dan “Selamat Malam Nyonya’ Cukup dengan sebutan “MERDEKA” . Hal ini diterapkan dengan hormat oleh mereka dengan bersalaman: “Maradeka Tuan, Maradeka Nyonya” dengan logat kental Papua Serui waktu itu.

Demikianlah penerimaan kami buangan van Mook di Serui. Perlu disini saya menceriterakan perihal seorang kawan akrab dari Serui ialah Oom Silas Papare. Beliau kami kunjungi di Poliklinik Serui…… Sebabnya adalah karena saya terserang Malaria demikian pula Ayah saya, sedangkan Oom Silas adalah “Mantri Hoofdverpleger” di Rumah Sakit Serui.  50 tqhun kemudian tepatnya ditahun 1996  saya berkunjung ke rumah sakit yang bagiku banyak kenangan. Kunjungan ini adalah berkaitan dengan Peringatan SSMS’96……. Namun itu suatu ceriter tersendiri lagi. (Note: Ditahun 70-an Oom Sillas mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia)

Rumah HPB
Rumah HPB

HPB akronim dari:  Hoofd van Plaatselijk Bestuur artinya Kepala Pemerintahan Setempat, yang pada waktu itu dijabat oleh Mijnheer den Hartogh, yang kemudian ternyata pernah jadi mahasiswa di Holland bersama kakak laki2 saya yang tertua di Nederland. Hanya kakak saya mengambil bidang studi kedokteran sedangkan den Hartogh mungkin studi yang lain.

Rumah Landbouw consulent
Rumah Landbouw consulent
Gedung SD tempat adik saya menuntut ilmu
Gedung SD tempat adik saya sempat menuntut ilmu
Jalanan di Seroei
Jalanan di Seroei

Ternyata saya temukan satu2nya foto asli yang dibuat sewaktu “pembuangan” di Serui. Para keluarga yang dijuluki “oknum2 berbahaya” sewaktu di Serui membaur dengan masyarakat setempat dan khususnya para ibu2 menyelenggarakan kegiatan2 pengembangan ketrampilan. Kumpulan ini kemudian berkembang menjadi organisasi wanita bernama Ibunda Irian (Papua).

Ibu saya disamping Ibu Silas Papare bersama kaum Ibu di Serui (1947)
Ibu saya disamping Ibu Silas Papare bersama kaum Ibu di Serui (1947)

Kelanjutan nasib ketujuh teman seperjuangan dari Makassar beserta keluarga masing2 di Serui dapat dibaca pada tulisan dari Bpk Ir. Zainuddin.

SITUS SERUI (anno 200x)
SITUS SERUI (anno 200x)
Setelah renovasi pagar dan gerbang
Setelah renovasi pagar dan gerbang
TERIMA KASIH kepada PEMDA PAPUA
TERIMA KASIH kepada PEMDA PAPUA

27 Comments Add yours

  1. RIdo Matari Ichwan says:

    Salut kepada Tante Lanny yang senantiasa mengumpulkan keping-keping puzzle dari Opa Sam Ratulangie .. dan keping-keping sejarah secara tematik sehingga anak cucu .. juga seluruh masyarakat Indonesia dapat memiliki gambaran mengenai suasana dan penggal sejarah Indonesia, khususnya Serui, dan Sam Ratulangie

    1. laniratulangi says:

      Hi! Rido, aku senang mendapat respon atas penjabaranku mengenai kenangan pada saat2 yang dalam hidupku kurasa sangat pribadi tetapi penting. waktu itu saya berumur 13-14 tahun jadi sudah dapat berobservasi agak jelas dan –untung– sekarang masih dapat merekam kembali perasaanku pada waktu itu.

  2. abdul jalali says:

    Aku sangat beterima kasih kepada kakak lani ratulangi…karena telah menampilkan foto wajah serui di tahun 1946.
    Bapak saya juga salah satu anggota PPKI, sebuah organisasi yang didirikan oleh Bpk. Dr. Sam Ratulangi di Serui pada waktu itu.
    Dalam organisasi Bpk sebagai Bendahara, atas nama : Achmad Djalali (keturunan Gorontalo-Papua)

  3. laniratulangi says:

    Bapak Abdul Jalali yth. Terima kasih atas perhatian dan komentar Bapak atas Blog saya. Kenangan bagus akan PPKI mungkin perlu di-refresh lagi, agar cita2, maksud dan tujuan para pendahulu kita tidak terkikis oleh deru dan ombak perkembangan.
    Ditahun 1996 pernah kami adakan satu Peringatan di Makassar dan Serui. Foto2nya dapat dilihat pada alamat dibawah ini:

    http://lanirat.multiply.com/photos/album/16

    Silahkan meng-klik.

  4. laniratulangi says:

    Selamat siang Bpk Jalali yang saya hormati.
    Setelah saya lihat kembali dokumen2 saya didalam berkas2 mengenai perjuangan yang berkobar di Serui setelah ke-tujuh Bapak2 dan keluarganya dibebaskan, maka saya lihat bahwa istilah PPKI salah dan semestinya harus PKII yakni singkatan dari Partai Kemerdekaan Irian Indonesia.
    Penyajian ulasan saya mengenai hal2 yang terungkap di dokumen2 tersebut masih merupakan PR saya untuk masa depan.

  5. abdul jalali says:

    Hallo ka Lani… kami keluarga besar PPKI yg berada di serui telah melakukan reuni dan ingin membentuk suatu ikatan keluarga PPKI. Suatu bukti sejarah yg tak terlupakan dr Orang Tua kami….semoga kaka dapat merestuinya….
    ini no hp yg dapat kaka hubungi,…(081344361170)

  6. laniratulangi says:

    Bung Abdul Jalali di Serui!
    Ada kabar bagus. Setelah beberapa waktu kami sekeluarga bikin peringatan 30 Juni 2010 (Hari wafatnya Alm. Ayah kami: Dr. G.S.S.J. Ratulangie yang ke-61) dengan sukses. Acara peringatan di Monumen di Tondano dan Pameran Foto (memperlihatkan sekitar 60 lembar foto tentang Perjuangan Sam Ratu Langie) di Tondano dan juga di Museum Propinsi di Manado. Yang terakhir dikunjungi lebih dari 200 pengunjung, maka jika Tuhan mengizinkan kami ingin peringati 30 Juni 2011 di Serui.
    Idee ini masih dalam taraf embrionik jadi Panitia dan Program juga belum jelas dan masih perlu digodog.
    Barangkali kita bisa kerja-sama. Namun ada satu hal yang penting. Kami selalu bekerja NON-POLITIKAL. Hanya ingin meneruskan dan memperluas pengertian masyarakat akan cita2 para pendahulu yakni khususnya ketujuh ex-buangan itu.
    Salam sejahtera bagi kita semua.
    Lani Ratulangi (atau Matulanda Sugandi-Ratulangi).
    PS. Foto2 dan laporan berita koran ada di Blog saya di WordPress juga.

  7. ABDUL JALALI says:

    kKa lani….ni saya br dapat AD/ART Organisasi PKII, yg arsipnya disimpan oleh Alm Achmad Djalali (bendahara PKII)…
    kalau ka lani mau nanti saya kirim (E-mail)

    1. laniratulangi says:

      Email saya:
      lanirat@yahoo.com
      Saya tertarik sebab sejarah jangan dilupakan….. Khususnya anak2 muda agar tahu bahwa untuk sampai ketitik ini (dan ini belum titik akhir) sudah banyak yang berjuang dan ini jangan disia2kan. Kalau ada kekurangan….. ya bantulah memperbaikinya dan jangan ngambek lalu membanting semua yang telah tercapai.
      Kalau AD/ART bisa discan dikirim ke aku maka akan kumasukkan ke blog ini. Terima kasih sbelumnya…..

  8. Uyung Achmar says:

    Salam ibu Lani.. Saya sedang dinas di Serui.. Tadi saya foto2 di rumah pembuangan Yth.Dr.Sam Ratulangie selama di Serui 1946-1948.. Saya googling info ttg beliau dan bertemu dengan web ini… Salam hormat dari saya yang selalu haus akan cerita sejarah… *baru tau kalau ternyata ada 7 pejuang yg diasingkan, dan keluarganya ikut..! Saya pikir diasingkan sendirian..*

  9. laniratulangi says:

    Bung UYUNG yth! Saya SALUT buat website Anda! Aku blon sempat baca smua cuman seneng aja ada kawan dengan hobby nyang sama! Good luck…. truskan…. dan sampai ketemu lagi di dunia maya!
    Ibu Lani

  10. Nugs says:

    Salam Kenal Ibu lani, Artikel yang sangat bagus tentang Serui. saya tunggu artikel2 selanjutnya tentang Serui. ijin ambil fotonya

  11. Denny Imbenay says:

    Saya terharu membaca n melihat foto2 di blog ini. Walaupun saya adalah generasi yg lahir jauh sesudah era tsb, saya merasa dekat dengan kenangan sejarah tsb, krn saya lahir di Serui n tinggal di rumah pembuangan Dr. Sam Ratulangie yg waktu itu dihuni oleh Kel. Alm. Bpk. Patay.
    Semoga sejarah ini tetap diingat selamanya.
    Salam hormat dari Adelaide, South Australia

    1. laniratulangi says:

      Hallo Bung Denny. Ya saya juga sering mengenang saat2 kami dibuang ke Seui. Walaupun keadaannya sebenarnya kurang mendukung situasi Serui saat2 itu begitu positip bagi kami anak2 sehingga keseluruhannya bagaikan liburan panjang dengan kenangan manis. Ditahun 1996 kami pernah menyelenggarakan Sarasehan Syukuran Makassar Serui sayang kakak saya Milly meninggalkan kami untuk selama2nya pada perjalanan dengan kapal dari Biak ke Serui. Ya …. walaupun saya kini berumur 79 tahun saya masih ingin untuk sekali saja lagi ke Serui. May GBU overthere…..
      Ibu Lani Sugandi-Ratulangi

  12. Awaluddin says:

    Ijin ambil Foto2nya, mau share sama teman2 yang lain.

  13. Orin says:

    Bu Lani, salam kenal. Sudah tahun saya tinggal di serui, dan selama itu juga saya rajin mengumpulkan informasi dan sejarah serui. Senang terhubung ke blog ini, menarik melihat foto2 Serui masa lampau. Regards

    1. laniratulangi says:

      Halo Orin salam kenal ….. aku rindu ke Serui…. semoga selama hidupku yang udah lama, saya masih keburu ke Serui…. Ngapain aja di Serui? Ikut suami atau ngajar ?

  14. roderickwahr says:

    Een erg interessant verhaal Lani. In 1946 zaten wij in Parepare waar mijn vader de belangen van de KPM behartigde. In 1947 kwamen wij naar Makassar waar mijn vader door de KPM aan Soekarno werd uitgeleend om de eerste Indonesische nationale scheepvaartmaatschappij op te richten. Dat was de MKSS (Maskapai Kapal Selebes Selatan). Wij hebben af en aan heel lang in Makassar gezeten. Interessant te lezen dat jullie in die tijd ook in de buurt waren. Groetjes.

    1. laniratulangi says:

      Beste Roderick, Bedankt voor je commentaar. Ik be altijd blij als ik van WordPress een notification krijg dat er een commentaar is op een van mijn posting. Leuk dat je het interessant vind over onze “tocht” naar een “onbekende plaats die op een afstand van ongeveer 10 uren vliegen” lag…..”.In elk geval was Seroei 1000 maal beter dan Digoel, en zelfs mooi. Mischien is dat te danken aan de keuze van de toenmalige Gouverneur Generaal, dat was Mr. Jonkman een goede vriend van mijn vader en zijn eerste vrouw, Dr. Suze Ratulangie-Houtman, tijdens hun studententijd (1918) Ik heb een posting daarover in mijn blog.Thanks an Adieu.

  15. Achmad Bahasoan says:

    Salam bu Lani,
    Saya lagi asyiiiiik baca, tapi nyerah deh pada yang terakhir ini, sdh lama Merdeka, sdh Ga dengar lagi Holand spoken ???, terjemahin ya bu.

    Achmad Bahasoan

    1. laniratulangi says:

      Selamat Hari Minggu, Om AB Terima kasih Anda baca tulisanku di blog WordPress ini. Ya begitulah ceriteraku dalam Bahasa Indonesia. Mohon agar jangan ditekan tombol “translation” sehingga terbaca tulisan aslinya.

      1. Achmad Bahasoan says:

        Bu Lani, maksud saya percakapan ibu dengan mr. Roderickwahr yang membuat keasyiikan saya terganggu, karena tidak mengerti artinya, . . .dan akhirnya perlu minta bantuan Om Google untuk menerjemahkannya.
        Terima kasih Ibu, semoga tetap sehat, . . . bersemangat, . . .
        dan Merdeka !!!

  16. laniratulangi says:

    Om AB ya sekarang saya baru mengerti…..I Mengenai Mr. Roderick Wahr (ada di FB)banyak mengetahui dan menulis di internet khususnya tentang Minahasa.) Pada jawaban saya terhadap komentarnya saya katakan : “beruntung sekali bahwa pembuangan kami sekeluarga adalah ke Serui dan bukan ke Boven Digul, Papua. Mungkin sebabnya adalah karena dimasa itu yang menjadi pimpinan penguasa Belanda (Gouverneur Generaal) adalah Mr. Jonkman, yang sebenarnya adalah kawan dari Ayah saya dan isteri pertamanya Dr. Suze Houtman sewaktu masih belajar di Holland.

  17. Bung Neo says:

    Makasi bu lani: ini sungguh sejarah sebagi kisah. Apa yang ibu buat sebenarnya wujud kepedulian thd sejarah. Apalagi sejarah dari tokoh2 besar spt Sam Ratulangi dkk yg kadang tak mendapat porsi besar dalam sjarah orang2 besar yg jawa centris. Untunglah skrg beberapa topik pembljaran sejaraj diskolah spertinya mulai mengarah ke tokoh2 dibalik layar berdirinya RI. salasatunya tentang kisah Silas Papare. Mudah2an kisa sejarah spt ini dapat menjadi puzle2 yg akn membentuk historiografi indonesia lebih nasional dan tidak jawa sentris

  18. Dennie says:

    Salut buat tante Lani yg sudah menceritakan sepenggal cerita sejarah buat kami semua bangsa Indonesia. Kami tetap mengingat akan perjuang opa Sam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jayalah Indonesia. NKRI tetap jaya

  19. ferdinand Pandey says:

    Kita tahu sekarang,bahwa segala sesuatu turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah,yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Nya (Roma 8 28)

  20. ferdinand Pandey says:

    Kita tahu sekarang,bahwa segala segala turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah,yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma – 8:28)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s